Didalam beraktivitas politik di Indonesia sejauh ini saya melalui sebuah ujian kesabaran melalui jalan yang berliku nan terjal. Diawal langkah kakiku pada dunia politik, saya ‘dilamar’ oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono Mentamben(Menteri Pertambangan dan Energi) saat itu disaat masih berkuliah di School of Film, Ohio University, Amerika Serikat ketika sebagai reporter dan kamerawati tamu sedang meliput kunjungan Presiden Megawati saat itu ke PBB di New York Amerika Serikat. Sebagai saksi yang berada persis disamping beliau belakangan saya ketahui sebagai Ketua Komisi 6 DPR RI dari Fraksi PPP yang hari ini adalah Ketua Umum PPP bernama Surya Dharma Ali.
Didepan the American-Indonesian Chamber of Commerce di New York, didepan pintu masuk ruangan saya ditanya oleh Bapak Menteri SBY bahwa saya telah diminta bergabung dengan ‘Partai Ibu’ kata beliau santun saat itu. Yah,... disaat itu kita semua ketahui bahwa Partai Demokrat belumlah lahir dan Pak SBY sedang berada dalam susuna Ibu Megawati sebagai salah seorang kandidat Wakil Presiden untuk melaju dalam Pemilu 2004 lalu. Namun bersama pula kita ketahui bahwa sebelum berkumpul di New York bersama Pak Taufik Kiemas the First Gentlement saat itu dan Ibu Presiden Megawati saat itu diisukan santer beranjangsana lebih dahulu duluan ke Pentagon yang membuat sangat marah Bapak First Gentlemen RI saat itu. Singkat kata akhirnya Bapak SBY menjadi pesaing Ibu Megawati Soekarnoputri dan memenangkan pertarungan pada tahun 2004 lalu. Kini Bapak SBY adalah Presiden RI yang sekaligus sebagai salah seorang kandidat terkuat Presiden pada 2009 keatas.
Memasuki tahun ketiga di DPR RI – walau diiringi tangis pilu beberapa elit oknum PDIP yang sangat sanga kepada saya semisal Bapak Sutardjo Suryoguritno, Yacobus Mayongpadang, Kwik Kian Gie dan kawan-kawannya dari IBI (Institut Bisnis Indonesia), dan ribuan kader PDIP diakar rumput dari 6 wilayah administrasi di Provinsi Banten dan Jabar 2 Kabupaten Bandung – saya dipaksa keluar dari partai Moncong Putih ini oleh Bapak Taufik Kiemas dan Ibu Megawati Soekarnoputri. Walau hati sangat sedih dikarenakan Ibu Megawati sebagai ’ibu kandung politikku’ ternyata lebih cinta kepada anak kandung partai kuning, saya mengikhlaskannya karena memiliki prinsip ajeg bersandar hanya kepada Allah SWT semata. Baik Ibu Mega maupun suaminya hanyalah hamba Allah biasa sama seperti kita semua yang baik hati namun terkadang penuh dengan kelemahan hati duniawi. Tidak ada satupun dari kita yang memiliki sifat maksum – terbebas dari kesalahan – termasuk saya juga tentu didalamnya!
Namun jasa Ibu Mega dan Pak Taufik yang telah pernah mengantarkan saya menjadi seorang politisi tidak akan pernah saya lupakan sampai kapanpun juga. Jazakumullah khoir wahai ayah dan ibu politikku yang pertama... hope God bless you always! Insya Allah...
Hari ini saya menjadi kader PPP setelah hampir dalam rentah setahun lebih tidak berpolitik. Ibarat gadis cantik yang direbuti banyak pangeran yang datang nun dari seberang, dimasa tidak melakukan kegiatan berpolitik, praktis alhamdulillah saya dilamar oleh 7 (tujuh) partai sekaligus. Mulai dari Golkar, Demokrat, PPP, PAN, PKS, Partai Buruh, Hanura, hanya PKB yang tidak melamar saya saat itu. Bahkan setelah saya resmi ber-PPP-pun, karena saya juga adalah salah seorang anggota di HKTI dan masuk dalam Dewan Kelapa, saya secara intens didekati oleh Ketua DPW Gerindra Kalsel untuk diusung dari Dapil Kalsel. Tak henti-hentinya saya mensyukuri nikmat serta karunia kemewahan politis ini, tentu tanpa menjadi besar kepala. Sementara waktu tawaran-tawaran untuk bergabung tersebut menjadi pelipur lara karena dipecat dari PDIP karena tidak bersedia diajak berkolaborasi dengan kejahatan.




